Teori Rasionalitas Kejahatan

Dalam kuliah sosiologi hukum pada 16 November 2011, belajar tentang teori rasionalitas kejahatan. Dalam teori rasionalitas kejahatan, suatu kejahatan tidak dilakukan secara spontan, tetapi diukur secara rasional dan seorang penjahat akan melakukan kalkulasi secara matang mengapa kejahatan tersebut perlu dilakukan. Ada 4 hal yang perlu dievaluasi sebelum melakukan kejahatan: (1) ekspektasi keuntungan dari kejahatan; (2) kemungkinan (risiko) tertangkap dan dituntut; (3) panjangnya hukuman; dan (4) kesempatan dalam aktivitas legal.

Teori rasionalitas kejahatan dapat dilihat dalam ilustrasi sebagai berikut: Misal Si A adalah Pejabat Eselon IV yang bergaji Rp 20.000.000,- per bulan, pada suatu ketika diberikan pekerjaan sebagai pimpinan tender proyek Rp 100 milyar. Dalam proyek tender biasanya Pimpinan tender mendapat kick back 10 % dari nilai proyek atau setara dengan Rp 10 milyar, jika diberikan kepada pihak yang telah ditentukan. Pertanyaannya adalah dengan teori rasionalitas kejahatan, apakah A akan melakukan berbagai macam cara supaya tender jatuh pada pihak yang ditentukan atau A benar-benar melakukan tender secara fair?

Jawaban: A harus berhitung apakah jika melakukan tindakan korupsi, A akan mendapatkan keuntungan yang besar dan pengorbanan yang kecil. Dalam kalkulasinya si A harus memperhitungkan sebagai berikut :

Keuntungan kotor = Rp 10 Milyar

Biaya yang dikeluarkan jika ditangkap dan hanya mendapat hukuman 1 tahun 6 bulan = Biaya Pengacara Rp 1 milyar + Biaya untuk Penyidik Polisi/KPK/Kejaksaan Rp 1 milyar + Biaya untuk Penuntut Umum Rp 1 milyar + Biaya untuk hakim Rp 1 milyar + Biaya untuk remisi dan penjara mewah Rp 500 juta + Denda dan Harta yang disita Rp 1 milyar = total Rp 5,5 milyar

Keuntungan bersih = Rp 4,5 milyar

Dengan perhitungan di atas, tentu Si A akan memilih melakukan tindakan korupsi, dimana dia akan mendapatkan keuntungan bersih Rp 4,5 milyar dengan hanya mendapat hukuman 1 tahun 6 bulan (dengan penjara mewah dipotong remisi), daripada harus menabung dari gaji yang diterimanya sebesar Rp 20 juta perbulan.

Kesimpulan:

Dengan melihat gambaran di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pelaku kejahatan korupsi selalu memperhitungkan secara matang untung rugi melakukan suatu kejahatan. Dengan besarnya keuntungan yang diperoleh dan minimnya pengorbanan yang dikeluarkan, tak heran pejabat negara lebih senang korupsi dibanding harus menunggu kaya dengan menabung uang hasil gaji halalnya. Remunerasi tidak berbanding lurus dengan pelemahan korupsi, jika tidak dibarengi dengan perbaikan sistem birokrasi dan pemiskinan koruptor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s